Arema,arek Malang.Aremania,suporter kesebelasan Arema.Semula nama Arema digunakan sebagai identitas anak-anak muda asal Malang pada tahun 70-an dan awal 80-an, khususnya bagi yang merantau Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Istilah itu juga akrab di kalangan geng-geng anak muda Malang, yang saat itu sedang menggejala. Kemudian, istilah Arema juga digunakan sebagai nama klub sepakbola peserta Galatama(Liga Sepakbola Utama) yang didirikan pada 11 Agustus 1987 di kota Malang oleh Acub Zaenal dan Lucky Acub Zaenal,bapak dan anak.Acub Zaenal adalah mantan gubernur Irian Jaya(sekarang Papua). Sedikit demi sedikit klub ini mendapat tempat di hati kera-kera ngalam.Apalagi setelah Arema menjadi juara Galatama 1994. Nama kota sejuk ini pun terangkat oleh sebuah klub sepakbola pendatang baru dari sebuah kota ukuran menengah, Malang, yang menjungkirkan nama-nama besar seperti Niac Mitra Surabaya maupun Pelita Jaya Jakarta.Kebesaran Arema terus terpelihara sampai sekarang. Jangan heran, hampir di semua sudut kota Malang, termasuk di gang-gang sempitnya, dipenuhi coretan atau grafiti bertema Singo Edan(julukan Arema)dan suporternya. ''Kegilaan mereka terhadap klub sepakbola kesayangannya, mirip kegilaan fans sepakbola manca negara,'' ungkap wartawan Kompas, Putu Fajar Arcana, yang bukan asli Malang, waktu melukiskan ekpresi penggila bola kota ini. Dia menulis, "Jangan diragukan lagi sepakbola bagi masyarakat Malang ibaratnya rokok bagi lelaki. Olahraga 'rakyat' ini menjadi keseharian yang serius. Bahkan dianggap sebagai ekspresi atas karakter masyarakat Malang Raya(kota Malang,kabupaten Malang,dan kota Batu)yang egaliter dan terbuka.
Saat ini,fenomena Aremania berkembang berbagai arah,apalagi setelah suporter yang terkenal atraktif ini dinobatkan sebagai SUPORTER TERBAIK INDONESIA tahun 2000 serta THE BEST SUPPORTER COPA INDONESIA 2006. Tentu proses identifikasi Aremania tidak begitu saja terjadi tanpa proses yang panjang. Makin mengentalnya identifikasi itu tak luput dari penggunaan bahasa walikan (balikan) di antara komunitas anak-anak muda Malang. Tidak diketahui secara secara persis kapan istilah Aremania muncul. Ada yang mengatakan tahun 1987,1994,1997,atau tahun menurut versi-versi lainnya.Satu hal yang menarik adalah fenomena khas Malangan,yaitu pemakaian osob kiwalan atau boso walikan(mengucapkan kalimat dengan kata-kata dibalik dari belakang ke depan)di kalangan Aremania sampai hari ini. Menurut akademisi Universitas Negeri Malang (UM) Dr Djoko Sardjono, bahasa walikan makin mengentalkan proses identifikasi Aremania. Bahkan, mengutip Dr Djoko Sardjono, "Aremania sudah menjadi semacam subkultur, di mana terdapat persamaan emosi yang guyub di antara komunitas."
Terhadap fenomena identifikasi aremania itu, muncul bermacam analisa. Sebagian pengamat mengkaitkan hal itu secara kultural dengan fenomena proletar yang disimbolkan dalam diri Ken Arok, Raja Singosari pertama dari jaman abad ke 12 silam. Bekas kerajaan Singosari ini terletak di kecamatan Singosari, sekitar lima belas menit dari Pusat Kota Malang. Kata mereka, latar belakang Ken Arok adalah raja jelata, dan berhasil memfusikan berbagai kekuatan para preman, sekaligus para pendeta untuk melawan kerajaan Kediri. "Sepenggal sejarah itu, paling tidak menjelma dalam spirit Aremania. Paling tidak terlihat, saat Aremania menjadi benteng kota yang efektif untuk melawan perusuh saat reformasi bergulir," kata sejarawan Dwi Tjahyono (Kompas, 15 Desember 2000).
Fenomena Aremania disokong oleh suatu kesadaran bersama (kolektif) atas dasar persamaan emosi tentang betapa pentingnya melakukan identifikasi. Dan itu ditemukan anak-anak Malang melalui sebuah permainan sebelas orang dalam menendang dan merebut sebuah benda bundar. Olahraga khas orang-orang bawah itu kemudian dibungkus dalam sebuah kata yang sebelumnya sudah hidup di Malang secara sosial; Arema, dan kemudian dijahit lebih kuat lagi dengan bahasa walikan. Kaum muda Malang pun identik dengan sepakbola, Arema, dan bahasa walikan. Ya,itulah Aremania.(*bamz/dari berbagai sumber).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar