Sabtu, 07 Maret 2009

SEJARAH KOTA MALANG

SEJARAH KOTA MALANG

Daerah Malang merupakan peradaban tua yang tergolong pertama kali muncul dalam sejarah Indonesia yaitu sejak abad ke 7 Masehi. Peninggalan yang lebih tua seperti di Trinil (Homo Soloensis) dan Wajak - Mojokerto (Homo Wajakensis) adalah bukti arkeologi fisik (fosil) yang tidak menunjukkan adanya suatu peradaban. Peninggalan purbakala disekitar wilayah Kota Malang seperti Prasasti Dinoyo (760 Masehi), Candi Badut, Besuki, Singosari, Jago, Kidal dan benda keagamaan berasal dari tahun 1414 di Desa Selabraja menunjukkan Malang merupakan pusat peradaban selama 7 abad secara kontinyu.

Malang merupakan wilayah kekuasaan 5 dinasti yaitu Dewasimha / Gajayana (Kerajaan Kanjuruhan), Balitung / Daksa / Tulodong Wawa (Kerajaan Mataram Hindu), Sindok / Dharmawangsa / Airlangga / Kertajaya (Kerajaan Kediri), Ken Arok hingga Kertanegara (Kerajaan Singosari), Raden Wijaya hingga Bhre Tumapel 1447 - 1451 (Kerajaan Majapahit).

MASA KERAJAAN KANJURUHAN

Kerajaan Kanjuruhan menurut para ahli purbakala berpusat dikawasan Dinoyo Kota Malang sekarang. Salah satu bukti keberadaan Kerajaan Kanjuruhan ini adalah Prasasti Dinoyo yang saat ini berada di Museum Jakarta. Prasasti Dinoyo ditemukan di Desa Merjosari (5 Km. sebelah Barat Kota Malang), di kawasan Kampus III Universitas Muhammadiyah saat ini. Prasasti Dinoyo merupakan peninggalan yang unik karena ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bukan huruf Pallawa sebagaimana prasasti sebelumnya. Keistimewaan lain adalah cara penulisan tahun berbentuk Condro Sangkala berbunyi Nayana Vasurasa (tahun 682 Saka) atau tahun 760 Masehi. Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan sebagaimana berikut :

  • Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja yang sakti dan bijaksana dengan nama Dewasimha
  • Setelah Raja meninggal digantikan oleh puteranya yang bernama Sang Liswa
  • Sang Liswa terkenal dengan gelar Gajayana dan menjaga Istana besar bernama Kanjuruhan
  • Sang Liswa memiliki puteri yang disebut sebagai Sang Uttiyana
  • Raja Gajayana dicintai para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman diseluruh negeri
  • Raja dan rakyatnya menyembah kepada yang mulia Sang Agastya
  • Bersama Raja dan para pembesar negeri Sang Agastya (disebut Maharesi) menghilangkan penyakit
  • Raja melihat Arca Agastya dari kayu Cendana milik nenek moyangnya
  • Maka raja memerintahkan membuat Arca Agastya dari batu hitam yang elok

Salah satu Arca Agastya ada di dalam kawasan Candi Besuki yang saat ini tinggal pondasinya saja. Bukti lain keberadaan Kerajaan Kanjuruhan adalah Candi Badut yang hingga kini masih cukup baik keadaannya serta telah mengalama renovasi dari Dinas Purbakala. Peninggalan lain adalah Patung Dewasimha yang berada di tengah Pasar Dinoyo saat ini.

MASA KERAJAAN MATARAM HINDU

Keturunan Dewasimha dan Gajayana mundur sejalan dengan munculnya dinasti baru di daerah Kediri yaitu Balitung, Daksa, Tulodong dan Wawa yang merupakan keturunan Raja Mataram Hindu di Jawa Tengah. Balitung (898 - 910) adalah Raja Mataram pertama yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dinasti ini memusatkan kekuasaannya di daerah Kediri yang lebih dekat ke Jawa Tengah dibandingkan dengan bekas pusat kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan di Malang. Pada masa ini Malang hanyalah sebuah wilayah yang tidak begitu penting kedudukannya.

MASA KERAJAAN KEDIRI, DAHA DAN JENGGALA

Dinasti berikutnya yang menguasai Kediri setelah kemunduran Mataram Hindu adalah keturunan Sindok, Dharmawangsa, Airlangga dan terakhir Kertajaya (1216 - 1222). Pada masa ini pusat kekuasaan beralih ke Daha / Jenggala sedangkan daerah Malang menjadi sebuah wilayah setingkat Kadipaten yang maju dan besar terutama sebagai dalam bidang keagamaan dan perdagangan, dipimpin oleh seorang Akuwu.

MASA KERAJAAN SINGOSARI

Singosari dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar di tanah Jawa yang disegani diseluruh Nusantara dan manca negara. Singosari semula adalah sebuah Kadipaten dibawah kekuasaan Raja Kediri yaitu Kertajaya. Kadipaten tersebut bernama Tumapel dipimpin oleh Akuwu Tunggul Ametung yang kemudian direbut kedudukannya oleh Ken Arok. Ken Arok kemudian mengembalikan pusat kekuasaan ke daerah Malang setelah Kediri ditaklukkan. Selama 7 generasi Kerajaan Singosari berkembang pesat hingga menguasai sebagian besar wilayah Nusantara. Bahkan Raja terakhir yaitu Kertanegara mempermalukan utusan Maharaja Tiongkok Kubhilai Khan yang meminta Singosari menyerahkan kekuasaannya.

Singosari jatuh ketangan Kediri ketika sebagian besar pasukan Kertanegara melakukan ekspedisi perang hingga ke Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Namun tidak lama kemudian pasukan Kediri berhasil dipukul mundur oleh keturunan Kertanegara yaitu Raden Wijaya yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kerajaan Majapahit. Pada saat yang hampir bersamaan Raden Wijaya juga harus menghadapi serbuan dari armada Tiongkok yang menuntut balas atas perlakuan Raja Singosari sebelumnya (Kertanegara) terhadap utusannya. Armada Tiongkok inipun berhasil dikalahkan oleh Raden Wijaya berkat bantuan dari Penguasa Madura yaitu Arya Wiraraja.

MASA KERAJAAN MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.

Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru (Telaga Ranu Gumbolo) dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung Bromo - Tengger - Semeru serta Gunung Arjuna adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

ASAL USUL NAMA KOTA MALANG

Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa - Raja dalam agama Ciwa.

Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari - Kegenengan - Kidal - Jago : semuanya berupa candi).

Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen - Kuto Bedah - DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.

Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.

Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.

MASA KOLONIAL

Setelah kemunduran Kerajaan Majapahit yang terdesak oleh Kerajaan Mataram Islam, daerah Malang semakin ditinggalkan bahkan dijauhi karena kultus Dewa - Raja dan agama Hindu bertentangan dengan ajaran Islam. Peninggalan peradaban Hindu - Ciwa tidak lagi diperhatikan karena sisa pengikut Kerajaan Majapahit yang memeluk agama Hindu Ciwa menyingkir ke daerah Tengger dan keturunannya dikenal sebagai masyarakat Tengger sekarang.

Kedatangan bangsa kulit putih antara lain Portugis, Belanda dan Inggris pada akhirnya mengakibatkan kemunduran Kerajaan mataram sehingga Nusantara jatuh kedalam masa penjajahan. Dalam masa pertengahan penjajahan menurut Buku History of Java karangan Gubernur Jenderal Raffles (1812), Malang merupakan daerah perkebunan dibawah Kabupaten Pasuruan. Malang berkembang pesat setelah ada jalur kereta api dan dibukanya berbagai perkebunan terutama tebu untuk industri gula. Sampai saat ini dua pabrik gula peninggalan kolonial masih beroperasi yaitu PG. Krebet Baru dan PG. Kebon Agung.

MASA KEMERDEKAAN

Pada masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan di Malang didirikan Pemerintah Daerah Sementara dan pada masa Perang Kemerdekaan (Clash I 1947 dan Clash II 1949) daerah Malang menjadi basis perjuangan baik politis maupun gerilya. Berbagai pasukan antara lain TGP dan pasukan Hamid Rusdi sangat terkenal dengan kegigihan dan keberaniannya. Salah satu pertempuran dahsyat dalam mempertahankan Kota Malang yang selalu dikenang adalah front Jalan Salak (kini Jalan Pahlawan Trip). Pada saat itu gugur 35 orang anggota Brigade 17 Detasemen I Trip Jawa Timur. Di bekas lokasi pertempuran tersebut kini didirikan Monumen dan Makam Pahlawan Trip. Makam Pahlawan yang lain terletak di Jalan Veteran tidak jauh dari Jalan Pahlawan Trip.

MASA ORDE LAMA

Pergolakan politis pada akhir masa Orde Lama juga terjadi di Malang karena aktifitas PKI / Komunis cukup banyak mempengaruhi masyarakat terutama golongan pemuda. Terjadi rapat2 umum, demonstrasi, kerusuhan dan bentrokan fisik antara pendukung Komunis dengan pendukung Pancasila, salah satunya yang terkenal adalah penyerbuan Gedung Sarinah sekarang. Akhirnya kelompok Komunis dapat dikalahkan dan melarikan diri ke daerah Blitar sehingga dilakukan operasi militer Sandhi Yudha yang mengakhiri petualangan Komunis di Indonesia.

MASA ORDE BARU

Kota Malang berkembang pesat pada masa Orde Baru berkat perkembangan perekonomian yang semakin baik dan semangat masyarakat yang kuat untuk meraih hari depan yang lebih baik. Berbagai kegiatan pembangunan di segala bidang terus dilakukan dan memberikan hasil yang memuaskan.

MASA REFORMASI

Malang sebagai Kota Pendidikan juga menjadi salah satu barometer aksi yang menggulirkan reformasi. Ribuan Pelajar dan Mahasiswa turun ke jalan untuk memperjuangkan hak rakyat dan prinsip demokrasi hingga berhasil. Dan perjuangan terus dilanjutkan di daerah antara lain dengan mengupayakan pemilihan Pimpinan Daerah (Walikota) yang demokratis.

Selasa, 03 Maret 2009

Rabu, 04 Februari 2009

Tim Redaksi

Tim Redaksi WWW.AREMAINFO.NET

Jurnalis:
Bambang Riyanto

Editor:
Bambang Riyanto

Kontributor:
Haryo Bagus Handoko-Malang
Romei Ninik Hastuti-Jakarta

Desain,Ilustrasi,dan Merchandise:
Zen Ahmad
Arif Ainin

IT:
Budi Kharisma

Fotografer:
Azwin
Inod


Asa Itu Masih Ada

 Saatnya kesetiaaan diuji.Dalam kondisi tim yang tak beranjak ke papan atas,dalam kondisi tim yang akhir-akhir ini seolah tak ada hanisnya tertimpa masalah,bahkan terlempara dari Copa Indonesia saat pertarungan baru saja dimulai,masihkah kita setia pada ikrar kita untuk mendukung Singo Edan dalam kondisi apapun?
(baca sampai tuntas?klik judul di atas)

Aremania yang sesungguhnya tak akan lari di saat kondisi tim kesayangannya sedang terpuruk.Nawak,marilah kita belajar untuk menjadi Aremania yang sesungguhnya,yang sellau setia mendukung tim di kala sedang senang maupun susah.Kita harus tetap bersinergi dan bahu-membahu bersama tim kesayangan kita untuk kembali bangkit dan meraih kejayaan yang hilang.

Bnagkitlah,kawan.Tiada guna terus menerus meratapi kegagalan di Copa Indonesia tahun ini.Indonesia Superliga masih membentang di depan mata.Asa itu masih ada...

Bangkitlah Arema...
Kami kan selalu mendukungmu tuk meraih kembali kejayaan,kejayaaanmu,kejayaan kita.(*bamz)

War To Win

Jika kita lihat bagaimana perjuangan Adolf Hitler mengembalikan trah suku bangsa Arya sebagai bangsa nomor wahid dan melakukan “sapu bersih” kepada Yahudi. Jika kita baca bagaimana Ken Arok mengembalikan Kasta Sudra setingkat dengan Ksatria (darah biru) dengan membunuh penguasannya dan menikahi Ken Dedes yang notabene merupakan ratunya. Dan bagaimana perjuangan seorang Che Guevara yang menempatkan sosialisme dan persamaan kasta, bahkan tanpa kasta di negara Amerika Latin, Bolivia. Apalagi jika kita amati bagaimana Amerika melakukan dominasinya sebagai negara adi kuasa di jagad ini. Semuanya menggunakan idiom Cinta Damai dan Demi Perdamaian, meski dalam melakukannya tetap dengan proses perang dan mengalahkan lainnya!

Apa hubungannya dengan Arema dan Aremania? Ada hubungannya bahkan hampir mirip dengan perjuangan Che Guevara di Bolivia dan Muamar Khadafi di Libya, maupun Soekarno untuk menyatakan bahwa Indonesia ada dan layak di perhitungkan di dunia ini. Aremania, merupakan kelompok supporter yang melakukan tour dengan koordinasi dan atraktifitasnya pertama kali di Indonesia, yang melakukan pendukungan ke tim kebanggaannya, bisa diibaratkan merupakan perang terhadap kemapanan yang ada waktu itu serta sebagai penghapus stigma Fudamental maupun kelompok Preman yang identik dengan anarki!. Bahkan menjadi media pemersatu kelompok yang ada di Malang kala itu, mulai dari HIGAM, ARBOT, ARPOL, Jodipaness, Gabungan Anak Setan, Kapak Merah, AMS, Arek Malang Dampit (ARMDA) bahkan Baltimore dan lain-lainnya.

Akhirnya membawa Arema sebagai supporter terbaik di Indonesia. Slogan Cinta Damai kali ini sudah menjadi Virus jauh sebelum Slank mengatakan PISS! Jauh hari sebelum Iwan Fals menyuarakan Saudara se-bangsa! dengan OI-nya. Namun Cinta Damai tidak berlaku jika kita melakukan pendukungan saat di lapangan. Perang merupakan kata yang pantas dalam meraih kemenangan! Perang bukan berarti kita musti menggunkan kekerasan dalam melakukannya, namun perang kali ini merupakan menempatkan semua tim merupakan lawan saat pertandingan 2x45 menit di lapangan.

Saat ini Cinta Damai seolah menjadi idiom yang salah bagi pemain Arema, karena mereka tidak lagi bermain keras (bukan dengan tackling tanpa teknik). Pemain Arema yang semestinya memiliki motivasi sebagai seorang Prajurit yang nampak di lapangan hanyalah seonggok daging yang sok menyuarakan profesionalisme dengan ketakutan cedera dan habis masa kariernya! Tentunya hal ini sangat berbeda tatkala Arema masih diperkuat 80% asli Arek Malang. Di sini tampak jelas Loyalitas dan kebanggan mempertahankan nama AREMA dan Malangnya!

Sudah waktunya kita bersatu untuk berperang dan meraih Kemenangan! Aremania tetaplah pecinta Damai namun bukan berarti takut dan Menolak Perang jika di lawan! Terbukti PSSI dan BLI sudah merasakan hal ini, bagaimana Aremania berperang melawannya yang tak mengenal takut dan waktu, meski perjuangan kala itu setengah-setengah. Setengah terpaksa, setengah nodong, setengah percaya satu sama lain dan setengah pintar namun cukup kerdil, yang cukup bangga dan merasa puas diri saat statement penyejuk hati muncul dari kantor biang kerusakan sepak bola nasional, PSSI.

Sudah waktunya kawan kita berperang, melawan semua bentuk tirani dan rintangan yang menghadang setiap langkah dan presatsi Arema dengan cara yang cukup elegant. Kenapa tidak kita buktikan bahwa Arema dan Aremania tetap merupakan soko guru dan Icon persepakbolaan Indonesia.

War To Win… Now Or Never!
Aremania Cinta Damai Tapi Tak Menolak Perang Jika Dilawan! [Queen]

(Dikirim oleh Yuli Suthil,diambil dari Satujiwa)

Kadar Aremania

 Kalau ayas,sampai sejauh ini ayas tak pernah merasa diri PALING AREMANIA.Soal KADAR,biarlah orang lain yang menilai diri kita.Ayas nggak pernah ambil pusing soal yang ini,yang penting berusaha untuk selalu menonton langsung Arema main.Kecuali kalau berhalangan,misal sedang sakit.
Tour kemanapun ayas berusaha ikut,meski dibeli-belani utang.

Kalau kita bicara AREMA,kita ibaratkan saja sebagai sebuah faham atau "agama" kedua.Seperti halnya penganut agama,ada yang kadarnya kuat ada yang kadarnya kecil.Ada yang rajin sholat,ada yang sering bolong sholat,ada yang sholat cuma Jum'atan atu Idul Fitri thok,dsb.Ada yang rajin mencari2 kesalahan umat agama lain,ada yang senang mendebat agama lain meski ia tak pernah sholat,ada yang rajin sholat dan nggak pernah memusingkan agama orang lain,ada yang nggak pernah sholat tapi toleran terhadap agama lain,dll.

Begitu pun,AREMANIA sebagai "umat"nya AREMA.
Ada yang merasa cukup menonton lewat TV,mendengarkan lewat radio,ada yang mengharuskan diri selalu datang ke stadion,ada yang rajin ke stadion dn mneghujat "umat" alias kelompok suporter lain,ada yang selalu membanggakan Arema meski jarang sekali nonton langsung atau lewat TV,ada yang tak pernah menonton pertandingan tapi cukup rajin mencela-cela suporter lain,dsb.

Selama seseorang memiliki rasa suka atau cinta terhadp AREMA,ayas kira mereka adalah AREMANIA,tak peduli seberapa besar kadarnya,entah 10,25,40,atau 80%.Umpamanya,selama ia bersyahadat dan menyatakan diri sebagai orang Islam,maka ia sah disebut sebagai orang ISLAM,tak peduli berapapun kadarnya.Tak peduli ia sholat atau tidak.
Jangan pula mencap orang KATOLIK palsu,hanya karena ia tak pernah ke gereja untuk beribadah.

Perbedaan itu wajar,justru memang disengaja oleh Sang Pencipta,biar hidup ini rame,lalu manusia berpikir dan berinteraksi.

Hanya satu yang tampaknya kita camkan dalam hati,"Jangan merasa diri paling Aremania"
Kita2 masih muda,kontribusi belum seberapa dibandingkan pengorbanan dan jerih payah Aremania terdahulu.

Sepatah Kata Dari Redaksi

 Tidak terasa sudah sebulan lebih aremaremania meluncur di dunia maya.Dalam kurun waktu ini pula,aremaremania terus berusaha menemukan bentuk idealnya.Kami memang sengaja tidak menasbihkan diri menjadi media pemberitaan reguler seperti beberapa situs aremania lainnya serta media cetak.Meskipun kami beberapa kali menampilkan artikel seputar perkembangan tim serta hasil pertandingan,itu bukanlah sesuatu hal
(baca sampai tuntas?klik judul di atas)yang menjadi tujuan utama.Hal tersebut adalah salah satu bentuk ujicoba kami dalam mencari format ideal mengenai konten yang pas dimana kami akan memfokuskannya ke depan.

Setelah melalui beberapa ujicoba serta mempertimbangkan banyak masukan baik berupa saran maupun kritik,kami mulai menemukan bentuk yang menurut kami memang perlu untuk dijadikan format yang ideal sesuai harapan semula.Bagaimanakah format itu?Jawaban kami adalah,aremaremania kami harapkan menjadi sebuah media bagi Aremania dan Aremanita untuk menyuarakan opini atau mengaspirasikan pendapatnya secara bebas dalam koridor yang bertanggungjawab demi kebaikan serta kemajuan Arema,Aremania,Aremanita serta persepakbolaan negeri ini.

Redaksi aremaremania menyadari bahwa aspirasi dan opini Aremania begitu beragam serta dipengaruhi oleh berbagai latar belakang yang berbeda-beda pula.Kita semua tidak bisa menyalahkan hal tersebut.Justru dengan adanya relita itu kita semua bisa belajar untuk saling menghargai satu sama lain tanpa merasa bahwa opini atau pendapat kitalah yang paling benar dan tak bisa diganggu gugat.Dengannya kita bisa melatih kesabaran serta membangun kesadaran akan pentingnya toleransi.

Redaksi aremaremania akan selalu membuka kesempatan bagi masuknya saran dan kritik dari pembaca atau pengunjung setia tentang segala hal yang berkaitan dengan media ini.Bagi kami semuanya itu akan menjadi bahan perenungan serta bahan pertimbangan dalam menyuguhkan yang terbaik dari apa yang kami bisa lakukan untuk anda semua.

Bagi pihak-pihak dari luar aremaremania seperti website-website aremania atau suporter lain,maupun media massa dan lembaga lainnya yang ingin menjalin kerjasama dengan kami,pintu selalu terbuka.Kami akan menyambut anda dengan senang hati.Bagi yang berkeinginan untuk sekedar bertatap muka akan kami penuhi pula dengan mempertimbangkan waktu yang ada.

Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada nawak-nawak yang telah berkunjung,kawan-kawan yang telah menginformasikan aremaremania kepada orang lain,kawan-kawan yang namanya tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Salam Satu Jiwa!(*bamz)

Asa Itu Masih Ada

 Saatnya kesetiaaan diuji.Dalam kondisi tim yang tak beranjak ke papan atas,dalam kondisi tim yang akhir-akhir ini seolah tak ada hanisnya tertimpa masalah,bahkan terlempara dari Copa Indonesia saat pertarungan baru saja dimulai,masihkah kita setia pada ikrar kita untuk mendukung Singo Edan dalam kondisi apapun?
(baca sampai tuntas?klik judul di atas)

Aremania yang sesungguhnya tak akan lari di saat kondisi tim kesayangannya sedang terpuruk.Nawak,marilah kita belajar untuk menjadi Aremania yang sesungguhnya,yang sellau setia mendukung tim di kala sedang senang maupun susah.Kita harus tetap bersinergi dan bahu-membahu bersama tim kesayangan kita untuk kembali bangkit dan meraih kejayaan yang hilang.

Bnagkitlah,kawan.Tiada guna terus menerus meratapi kegagalan di Copa Indonesia tahun ini.Indonesia Superliga masih membentang di depan mata.Asa itu masih ada...

Bangkitlah Arema...
Kami kan selalu mendukungmu tuk meraih kembali kejayaan,kejayaaanmu,kejayaan kita.(*bamz)

Sepatah Kata Dari Redaksi

Tidak terasa sudah sebulan lebih aremaremania meluncur di dunia maya.Dalam kurun waktu ini pula,aremaremania terus berusaha menemukan bentuk idealnya.Kami memang sengaja tidak menasbihkan diri menjadi media pemberitaan reguler seperti beberapa situs aremania lainnya serta media cetak.Meskipun kami beberapa kali menampilkan artikel seputar perkembangan tim serta hasil pertandingan,itu bukanlah sesuatu hal
(baca sampai tuntas?klik judul di atas)yang menjadi tujuan utama.Hal tersebut adalah salah satu bentuk ujicoba kami dalam mencari format ideal mengenai konten yang pas dimana kami akan memfokuskannya ke depan.

Setelah melalui beberapa ujicoba serta mempertimbangkan banyak masukan baik berupa saran maupun kritik,kami mulai menemukan bentuk yang menurut kami memang perlu untuk dijadikan format yang ideal sesuai harapan semula.Bagaimanakah format itu?Jawaban kami adalah,aremaremania kami harapkan menjadi sebuah media bagi Aremania dan Aremanita untuk menyuarakan opini atau mengaspirasikan pendapatnya secara bebas dalam koridor yang bertanggungjawab demi kebaikan serta kemajuan Arema,Aremania,Aremanita serta persepakbolaan negeri ini.

Redaksi aremaremania menyadari bahwa aspirasi dan opini Aremania begitu beragam serta dipengaruhi oleh berbagai latar belakang yang berbeda-beda pula.Kita semua tidak bisa menyalahkan hal tersebut.Justru dengan adanya relita itu kita semua bisa belajar untuk saling menghargai satu sama lain tanpa merasa bahwa opini atau pendapat kitalah yang paling benar dan tak bisa diganggu gugat.Dengannya kita bisa melatih kesabaran serta membangun kesadaran akan pentingnya toleransi.

Redaksi aremaremania akan selalu membuka kesempatan bagi masuknya saran dan kritik dari pembaca atau pengunjung setia tentang segala hal yang berkaitan dengan media ini.Bagi kami semuanya itu akan menjadi bahan perenungan serta bahan pertimbangan dalam menyuguhkan yang terbaik dari apa yang kami bisa lakukan untuk anda semua.

Bagi pihak-pihak dari luar aremaremania seperti website-website aremania atau suporter lain,maupun media massa dan lembaga lainnya yang ingin menjalin kerjasama dengan kami,pintu selalu terbuka.Kami akan menyambut anda dengan senang hati.Bagi yang berkeinginan untuk sekedar bertatap muka akan kami penuhi pula dengan mempertimbangkan waktu yang ada.

Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada nawak-nawak yang telah berkunjung,kawan-kawan yang telah menginformasikan aremaremania kepada orang lain,kawan-kawan yang namanya tidak bisa kami sebutkan satu persatu.
Salam Satu Jiwa!(*bamz)

Senin, 02 Februari 2009

apakabara aremania semua ngumpertngilang

Rabu, 28 Januari 2009

IDAMKAN BUDIGOL DAN HITA

Kini, Arema sudah memiliki stok empat striker jelang tampil di putaran kedua Super Liga. Meliputi, dua bomber asing yakni Patricio ‘Pato’ Morales ( Chile ) dan Emaleu Serge Ngomgue (Kamerun). Serta dua striker local yakni Dendi Santoso dan Ranu Tri Sasongko. Dari keempatnya, hanya Serge yang masih belum siap tempur lantaran absen panjang selama tiga bulan pasca operasi lutut kirinya.

Meski demikian, stok tersebut nyatanya belum membuat pelatih Arema, Gusnul Yakin tenang. Sebaliknya, mantan pelatih Persiba Balikpapan ini justru menginginkan ada penambahan amunisi di lini depan Arema. Amunisi tambahan itu terbagi masing-masing satu penyerang lokal dan asing yang tentunya berkualitas dan memiliki naluri gol tinggi.

Keinginan itu nyatanya sudah disampaikan Gusnul kepada Satrija Budi Wibawa, ketua Harian PS Arema sekaligus Direktur PT Arema Indonesia saat saling bertemu seusai Singo Edan menang 3-0 atas Persid Jember dalam uji coba di Stadion Gajayana, Sabtu (24/1) lalu.Gusnul pun berharap SBW, panggilan akrab Satrija bisa mempertimbangkan keinginannya demi melengkapi kebutuhan tim.

‘’Saya bilang ke Pak Satrija, tim ini (Arema, Red) masih butuh tambahan striker lagi. Satu lokal dan kalau bisa satu asing sebagai alternative pengganti Serge yang masih absen lama karena pemulihan cedera. Mudah-mudahan Pak Satrija mempertimbangkan dan mendukung keinginan saya demi melengkapi kebutuhan Arema sebelum turun di putaran kedua,” ujar Gusnul kepada Malang Post, kemarin.
Lantas siapa striker itu?

Gusnul enggan blak-blakan mengenai hal ini. Namun, dia tersirat masih mengidamkan striker timnas, Budi ‘Budigol’ Sudarsono untuk sektor penyerang lokal idaman. Hanya saja, langkah Arema untuk memboyong pemain Persik Kediri tersebut cukup berat lantaran harus bersaing dengan Sriwijaya FC Palembang dan Persib Bandung yang juga mengicarnya. Bahkan khabarnya, kedua tim ini kini sedang jor-joran memberikan gaji-kontrak mega besar mendekati Rp 1 Miliar dan transfer ke manajemen Persik kisaran Rp 300 juta.

Sedangkan, untuk bomber asing, Gusnul menyimpan rapat pemain idamannya. Bukan tidak mungkin, idaman itu adalah Franco Martin Hita Gonzales ( Argentina ) yang tergolong bertipkal goal gether. Pasalnya, Gusnul juga sudah mengetahui kemampuan mantan pemain Arema di musim 2006, sekaligus melanjutkan saran striker anyar Arema, Patricio ‘Pato’ Morales ( Chile ).

‘’Sejak putaran pertama selesai, saya memang ingin Budi Sudarsono bisa gabung Arema. Sedangkan untuk striker asing, saya juga rekomendasikan Hita gabung. Tetapi semua tergantung manajemen saja,” tambah Gusnul. (mpost)

Selasa, 20 Januari 2009

Jl. Venus 8
Dinoyo, Lowokwaru
Malang, Jawa Timur
Indonesia

E-Mail: marketing@binder724studio.com

Informasi: Telp +62 81 334 235 887 - +62 341 - 910 66 13
 Binder Studio

.

Media online ONGISNADE.NET menghargai kode etik penulisan dan hak cipta. Copy paste dan isu plagiarisme berarti mengabaikan hak milik intelektual. Dalam setiap penulisan artikel atau berita yang merujuk kepada sumber atau media lain, ONGISNADE.NET terlebih dahulu melayangkan ijin tertulis atau menyertakan sumber atau tautan kepada berita atau artikel yang bersangkutan.

Disclaimer

Seluruh konten di ONGISNADE.NET berupa berita teks dan foto (termasuk ONGISNADE MAGAZINE, WALLPAPER dan FOTO) merupakan bagian dari informasi yang terkandung di dalam website ONGISNADE.NET dan tidak untuk tujuan perdagangan (komersial) dan/atau tujuan transaksi lainnya. Setiap penggunaan non pribadi dari konten ONGISNADE.NET wajib mendapatkan ijin tertulis dari ONGISNADE.NET.

ONGISNADE.NET tidak bertanggung jawab atas segala kesalahan data dan informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan yang berkaitan dengan penggunaan informasi di ONGISNADE.NET. ONGISNADE.NET hanya bertindak sebagai fasilitator dan penyedia tempat (ruang publik) pada segmen Kolom Komentar, Surat Pembaca, dan semua konten yang berasal dari pengunjung/penulis/kontributor. Isi konten Kolom Komentar dan Surat Pembaca sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengunjung, penulis, dan kontributor.

Redaksi ONGISNADE.NET berhak menghapus, mengedit, hingga memblokir setiap komentar yang masuk di ONGISNADE.NET. Setiap komentar yang masuk diharapkan sesuai dengan topik yang dibahas, tidak mengandung kata-kata kotor, hinaan, atau yang memuat unsur SARA, serta tidak menyertakan link promosi, iklan, dan atau spam.

Ketika anda posting segala sesuatu baik komentar, berita, artikel, gambar, foto, dan video ke ONGISNADE.NET, maka anda mengijinkan ONGISNADE.NET untuk mengcopy untuk tujuan apapun. Dengan memposting sesuatu ke ONGISNADE.NET maka secara otomatis anda telah memberikannya ke ONGISNADE.NET dimana tidak dapat ditarik kembali, terus menerus, non eksklusif, dapat dipindah tangankan, dianggap lunas, disimpan copynya oleh ONGISNADE.NET dan dapat digunakan di seluruh dunia untuk dicopy, ditampilkan pada publik, reformat, dikutip sebagian atau seluruhnya, dan didistribusikan untuk tujuan apapun secara komersial dan iklan, kecuali ada perjanjian tertulis sebelumnya.

Copyright 

Seluruh konten (artikel/berita teks dan foto) yang terdapat dalam situs web ONGISNADE.NET termasuk logo dilindungi undang-undang hak cipta . Seluruh konten (artikel/berita teks dan foto) yang terdapat dalam situs web ONGISNADE.NET tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang dengan cara apapun (sebagian atau seluruhnya) untuk kepentingan komersial.

Bagi siapa saja yang bermaksud memanfaatkan konten (artikel/berita teks dan foto) ONGISNADE.NET dengan cara memproduksi ulang, mengutip/menyadur, memperbanyak atau menyebarluaskan sebagian atau keseluruhan konten (artikel/berita teks dan foto) yang tercantum di dalam situs web ONGISNADE.NET, diharuskan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. Pemanfaatan konten (artikel/berita teks dan foto) yang tercantum di dalam situs web ONGISNADE.NET untuk tujuan apapun harus mendapatkan izin tertulis dari ONGISNADE.NET

2. Pemanfaatan konten (artikel/berita teks dan foto) ONGISNADE.NET setelah mendapatkan ijin tertulis dari ONGISNADE.NET, wajib mencantumkan tulisan “www.ongisnade.net” atau “ongisnade.net” beserta link ke “www.ongisnade.net”

3. Pelanggaran terhadap ketentuan copyright & disclaimer ONGISNADE.NET dan pemanfaatan material (artikel/berita teks dan foto) ONGISNADE.NET tanpa izin dapat dikenakan teguran, surat peringatan, tuntutan dan sanksi hukum atas pelanggaran hak cipta 

4. Pada setiap pemanfaatan konten (artikel/berita teks dan foto) termasuk aktivitas download dari ONGISNADE.NET, sebagian atau seluruhnya, berarti anda menyetujui ketentuan copyright & disclaimer ONGISNADE.NET.

5. ONGISNADE.NET berhak mengubah sebagian atau seluruhnya isi dari copyright & disclaimer sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

6. Ketentuan mengenai pemanfaatan konten (artikel/berita teks dan foto) ONGISNADE.NET dapat ditanyakan melalui email ke redaksi ONGISNADE.NET

GALERI


Jumat, 16 Januari 2009

TENTANG KAMI

Arema,arek Malang.Aremania,suporter kesebelasan Arema.Semula nama Arema digunakan sebagai identitas anak-anak muda asal Malang pada tahun 70-an dan awal 80-an, khususnya bagi yang merantau Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Istilah itu juga akrab di kalangan geng-geng anak muda Malang, yang saat itu sedang menggejala. Kemudian, istilah Arema juga digunakan sebagai nama klub sepakbola peserta Galatama(Liga Sepakbola Utama) yang didirikan pada 11 Agustus 1987 di kota Malang oleh Acub Zaenal dan Lucky Acub Zaenal,bapak dan anak.Acub Zaenal adalah mantan gubernur Irian Jaya(sekarang Papua). Sedikit demi sedikit klub ini mendapat tempat di hati kera-kera ngalam.Apalagi setelah Arema menjadi juara Galatama 1994. Nama kota sejuk ini pun terangkat oleh sebuah klub sepakbola pendatang baru dari sebuah kota ukuran menengah, Malang, yang menjungkirkan nama-nama besar seperti Niac Mitra Surabaya maupun Pelita Jaya Jakarta.


Kebesaran Arema terus terpelihara sampai sekarang. Jangan heran, hampir di semua sudut kota Malang, termasuk di gang-gang sempitnya, dipenuhi coretan atau grafiti bertema Singo Edan(julukan Arema)dan suporternya. ''Kegilaan mereka terhadap klub sepakbola kesayangannya, mirip kegilaan fans sepakbola manca negara,'' ungkap wartawan Kompas, Putu Fajar Arcana, yang bukan asli Malang, waktu melukiskan ekpresi penggila bola kota ini. Dia menulis, "Jangan diragukan lagi sepakbola bagi masyarakat Malang ibaratnya rokok bagi lelaki. Olahraga 'rakyat' ini menjadi keseharian yang serius. Bahkan dianggap sebagai ekspresi atas karakter masyarakat Malang Raya(kota Malang,kabupaten Malang,dan kota Batu)yang egaliter dan terbuka.

Saat ini,fenomena Aremania berkembang berbagai arah,apalagi setelah suporter yang terkenal atraktif ini dinobatkan sebagai SUPORTER TERBAIK INDONESIA tahun 2000 serta THE BEST SUPPORTER COPA INDONESIA 2006. Tentu proses identifikasi Aremania tidak begitu saja terjadi tanpa proses yang panjang. Makin mengentalnya identifikasi itu tak luput dari penggunaan bahasa walikan (balikan) di antara komunitas anak-anak muda Malang. Tidak diketahui secara secara persis kapan istilah Aremania muncul. Ada yang mengatakan tahun 1987,1994,1997,atau tahun menurut versi-versi lainnya.Satu hal yang menarik adalah fenomena khas Malangan,yaitu pemakaian osob kiwalan atau boso walikan(mengucapkan kalimat dengan kata-kata dibalik dari belakang ke depan)di kalangan Aremania sampai hari ini. Menurut akademisi Universitas Negeri Malang (UM) Dr Djoko Sardjono, bahasa walikan makin mengentalkan proses identifikasi Aremania. Bahkan, mengutip Dr Djoko Sardjono, "Aremania sudah menjadi semacam subkultur, di mana terdapat persamaan emosi yang guyub di antara komunitas."

Terhadap fenomena identifikasi aremania itu, muncul bermacam analisa. Sebagian pengamat mengkaitkan hal itu secara kultural dengan fenomena proletar yang disimbolkan dalam diri Ken Arok, Raja Singosari pertama dari jaman abad ke 12 silam. Bekas kerajaan Singosari ini terletak di kecamatan Singosari, sekitar lima belas menit dari Pusat Kota Malang. Kata mereka, latar belakang Ken Arok adalah raja jelata, dan berhasil memfusikan berbagai kekuatan para preman, sekaligus para pendeta untuk melawan kerajaan Kediri. "Sepenggal sejarah itu, paling tidak menjelma dalam spirit Aremania. Paling tidak terlihat, saat Aremania menjadi benteng kota yang efektif untuk melawan perusuh saat reformasi bergulir," kata sejarawan Dwi Tjahyono (Kompas, 15 Desember 2000).

Fenomena Aremania disokong oleh suatu kesadaran bersama (kolektif) atas dasar persamaan emosi tentang betapa pentingnya melakukan identifikasi. Dan itu ditemukan anak-anak Malang melalui sebuah permainan sebelas orang dalam menendang dan merebut sebuah benda bundar. Olahraga khas orang-orang bawah itu kemudian dibungkus dalam sebuah kata yang sebelumnya sudah hidup di Malang secara sosial; Arema, dan kemudian dijahit lebih kuat lagi dengan bahasa walikan. Kaum muda Malang pun identik dengan sepakbola, Arema, dan bahasa walikan. Ya,itulah Aremania.(*bamz/dari berbagai sumber).